Menunggu Apapun Itu

Di hadapan mata-mata yang begitu tajam mencari celah untuk melemparkan pertanyaan yang mematikan, lelaki kecil berjuang tetap bertahan menjadi yang tak tergoyahkan di balik benteng argumentasi yang dibangun pada lembar-lembar telaah ilmiah. Usai sudah perjuangan menit-menit yang sulit untuk menjadi abdi negara. Mencoba untuk tetap tenang meraih menang pada sebuah sidang pengujian.
Setelah masa prajabatan terlewatkan, kemudian hanyalah menanti sebuah kepastian. Apakah kemudian maju terus atau surut mundur perlahan kembali lagi menjadi jawara yang tertunda? Yup, benar sekali apalagi yang dinanti jika bukan surat pengangkatan? Atau malah surat pemberhentian yang datang? Hm, menunggu itu jemu. Toh apapun itu keputusannya adalah sama saja: tetap mengasah diri menjadi tajam untuk jalan perjuangan yang masih panjang….
Tahukah engkau kawan? Abdi negara yang diperjuangkan dengan jatuh bangun ini tidak lebih hanyalah kuli IT. Bukan pegawai negeri, hanya sebatas buruh kasar sebuah pabrik listrik yang sementara ini bertugas menarik kabel jaringan dan bongkar pasang perangkat keras, sembari menerjemahkan pikiran manusia kedalam baris-baris kode yang dimengerti oleh komputer. Warga kelas dua dibandingkan mereka insinyur listrik dan mesin yang gagah berani menjalankan pembangkit listrik, siap sedia menjaga agar pasokan listrik cukup untuk memutar roda kehidupan bangsa.
Berbicara roda kehidupan, memang bukan masalah sebelah mata. Di sana ada pendidikan, ekonomi, kesehatan, pemerintahan, telekomunikasi dan lain-lain. Mungkin itu satu alasan mengapa lelaki kecil ini masih saja setia menanti di sepetak meja kerja yang selalu penuh dengan rencana-rencana yang berserakan dan rasa ingin tahu tentang ini dan itu. Akhirnya, sedikit banyak berperan sebagai tenaga bantu untuk menerangi yang gelap itu sudah lebih dari cukup sebagai alasan untuk menjadi hamba Allah yang belajar bersyukur, belajar sabar, sembari memohon berkah Allah Azza Wa Jalla….
sependapat!
menunggu memang hal yg tdk mengenakkan, tp cblah dinikmati dan cari seninya…
meski rasanya tetap krg mengenakkan..
purwanindita: wew… seni menunggu? lebay ah!
bukan lebay, tapi alay…
purwanindita: ya itu alay = anak lebay
wAw….
mEngArtiKan diRix sEndiRi…!!!!
aLay ah!!! (-.-’)
Purwanindita: mosok? emang seperti itu kelihatannya ta?