Home > Pribadi > Pagi Pucat Pasi

Pagi Pucat Pasi

Pagi yang pucat pasi. Agaknya kalimat itu bisa menggambarkan keadaan saya pagi ini. Bukan masalah kurang tidur. Terlalu banyak tidur malah. Saya hanya kurang semangat saja. Ini tentang Tugas Akhir saya sejujurnya. Buntu, mana ujung mana pangkal tak lagi jelas. Atau ganti judul saja ya? Keputusan yang harus dipikirkan secara matang. Namun masalahnya ini sudah tidak lagi matang, sudah terlalu matang sampai gosong hangus. Hehehe. Kadang ingin tertawa sendiri. Sebelum ditertawakan orang lain? Menertawakan diri sendiri. Yup! Sebelum jadi gila. Atau saya memang sudah gila? Gila atau tidak gila itu tidak penting. Ini soal masa depan saya yang… hhhhh…. (menghela nafas berat-dalam)

Maunya ingin lolos lulus tepat pada waktunya yang tepat. Begitu lulus, tepat ada kesempatan kerja. Tepat ada jodohnya ( Bidadari Bermata Jeli yang shalihah) yang menanti pinangan. Hehehe, tutur yang melantur. Namun sudah lewat 4 tahun. Sudah terlalu tua untuk menyandang gelar “Mahasiswa”. Tidak pantas? Saya kira masih pantas. Ya masih pantas untuk menyandang gelar “Mahasiswa Pesakitan”.

Tapi gelar “Mahasiswa Pesakitan” ini, membuat saya tidak pernah merasa tua. Sepertinya, “Mahasiswa Pesakitan” adalah orang yang senantiasa muda. Bagaimana tidak? Sering bersama dengan adik-adik kelas yang masih “hijau segar” (ibarat rumput) karena saya cukup makan asam garam manis mengulang mata kuliah hehehe. Pokoknya ramai rasanya. Sampai -sampai sakit hati. Benar-benar sakit.

Kenyataan itu benar-benar menipu perasaan saya secara halus. Lho? Siapa yang menipu? menipu perasaan atau ditipu perasaan? Silahkan pikir sendiri! Ga penting juga rasanya. Yang pasti pada akhirnya tidak pernah sadar bahwa saya sudah mulai “menguning kering” (ibaratnya daun janur) tinggal tunggu waktulah, kemudian jadi sampah. Tapi ngomong-ngomong kapan ya janur kuning saya melengkung? Halah, bikin orang bingung jadi tambah bingung.

Kembali ke masalahnya. Semoga saya bisa membangun semangat yang sekarang entah kemana dan melalui “kemelut” ini dengan sebaik-baiknya. KEMELUT yang saya maksud. Bukan CUMLAUDE. Saya tegaskan sekali lagi, khawatir salah baca. Memang enak lihat awan pagi yang pucat pasi setiap hari? Sendirian lagi. Tapi ini memang hidup yang harus saya jalani sendiri. Bukan oleh atau dengan anda, kalian atau mereka. Meski hati sakit. Walau terasa pahit. Dan sedikit banyak rumit. Ini pertempuran si pejantan tangguh dari Semarang. Bukan bukan pertempuran anda, kalian, atau mereka. Ini adalah pertempuran secara jantan. Sendiri. Tanpa tikam belakang. Tanpa bala bantuan. Tanpa curang. Saya memang harus benar-benar berjuang. Sendirian.

Setelah memetik mentari subuh, melewati pagi yang pucat pasi, berkelana di dunia maya, dan sedikit berkisah tentang keluh kesah yang kelu, rasanya pagi ini tak begitu pucat pasi lagi seperti tadi. Memang tidak bijak mencela awal hari. Karena hari ini belum dilalui. Ok! Ayo tugas hari ini: segera akhiri Tugas Akhir ini.

Advertisements
Categories: Pribadi
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: