Home > Pribadi > Jadi Bisu?

Jadi Bisu?

Mungkin enak ya kalau jadi bisu. Ya bisu. Tidak bisa berkata-kata. Bukan tidak mungkin hal ini bisa mencegah kita dari dosa akibat mulut kita. Seperti menggunjing, membicarakan aib orang lain, bicara rusak, berkata kotor, berkata dusta, mencaci maki. Mencaci? Yah, mencaci maki apa saja, mencaci waktu, hari, keadaan, manusia, dan lain-lain. Hmm ternyata, mulut ini kalau tidak dijaga benar-benar menjadi sumber kebinasaan kita kelak, suatu saat nanti ketika penghitungan amal perbuatan di akhirat. Anda tidak percaya? Percaya sajalah.

Kalau pemikiran di atas diperluas seluas puas. Maka berbahagia mereka yang bisu, tuli, buta dan sebagainya. Diperluas atau dipersempit? Picik! Yah picik. Saya akui, saya rasa ini picik.  Btw, saya sedang membicarakan tentang sesuatu yang satu, yaitu: bisu.

Hmm seandainya saja saya jadi bisu. Yup! Bukan tidak bersyukur. Cuma sekedar berbagi bahwa beberapa hari ini saya jarang bicara. Ceritanya mengurung diri dalam ruang kamar. Benar-benar mengurung diri. Rapat. Tertutup. Ya tidak tertutup banget. Masih ada waktu untuk ke kamar mandi dan ke warung untuk makan. Setidaknya masih ada sedikit celah untuk cahaya dan udara. Seminggu? Kurang… mungkin lebih dari itu. Mengapa? Entah. Rasa tertekan mungkin. Inginnya segera mengakhiri Tugas Akhir ini. Namun tujuan mulia itu kemudian cuma menguap melalui mulut. Ya.. menguap. Suntuk, kemudian mengantuk. Terbengkalai atau memang lalai? Yang pasti cuma makan hati. Tidak tanggung-tanggung. Makan tidak hanya hati separuh, namun utuh! Dan diulang berulang. Sampai sungguh-sungguh kesal, sebal. Atau memang aku yang bebal? Sungguh makan hati itu bikin perut jadi mual. Mungkin benar saya terlalu banyak berpikir. Hingga tidak lagi bisa berpikir. Rasanya ingin berhenti berpikir saja. Namun saat manusia berhenti berpikir, dia bukan manusia yang hidup lagi. Mayat? Mungkin bangkai jika tidak sedang tidur.

Ujung dari itu semua perasaan makan hati itu hanya satu. perilaku bisu. Ya. Membisu. Mmm maksud saya mencoba jadi bisu. Saat ini bagi saya bincang-bincang adalah sesuatu yang tidak penting. Akhirnya terjadilah yang terjadi. Saya “bisu suri”. Dan saya cukup menikmatinya. Ketenangan dalam kesendirian. Sunyi. Saya menikmati suasana sepi ini di sepetak 3×4 meter persegi ruang kamar. Tanpa mencaci hari. Tanpa melaknat. Tanpa dusta. Tanpa semuanya. Seandainya tidak akses internet di dalamnya, mungkin akan lain ceritanya. Hehehe.

Dan saya ternyata masih juga berpikir. Rupanya saya masih hidup di balik pintu kamar yang tertutup rapat ini. Berpikir bahwa mungkin masih ada sisa harap, dalam sepetak ruang yang pengap. Yup! Tulisan ini satu bukti saya masih berpikir. Setidaknya hingga detik ini. Saya rasa saya mampu menghitung kata yang saya ucap hari ini sampai detik ini. Kata! Ya kata! Bukan kalimat. Okelah anggap saja kalimat. Coba kita lihat:

Sekitar pukul 11.00 saya rasa saya berkata, “Nasi, sayur, tempe dua, susu dingin.”

Ketika makan malam kurang lebih pukul 20.30 sepertinya saya berucap, “Nasi, telur”

Saya mengatakan, “kurang tahu” ketika kebetulan ditanya teman sebelah kamar.

Hohoho minimalis sekali ya? Ups, ada yang terlupa, saya mengucap dengan lirih “Allahu Akbar” dan “Sami Allah Huliman Hamidah” Ketika Shalat Shubuh, Dhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya pada masing-masing rakaatnya. Dan doa-doa dalam sholat…. Ya ya ya. Saya akui akhirnya. Menjadi orang yang tidak bisu merupakan karunia dari Tuhan Semesta Alam. Dengan mulut ini kita bisa banyak melakukan hal-hal yang penting dalam hidup ini. Yang terkadang kita tidak sadari. Hal-hal penting apa yang bisa kita lakukan? Seperti membaca do’a, memuji Tuhan, tilawah qur’an, memberikan nasehat, mengucapkan salam, melakukan pergaulan yang baik, menyampaikan ide, melakukan pembelaan, mengekspresikan perasaan. Hal-hal penting yang terkadang dirasakan tidak begitu penting.

Lantas apa inti dari semua tulisan saya ini? Tidak ada. Maksud saya, mungkin tidak tahu lebih tepatnya. Saya hanya ingin berbagi dengan anda, bahwa saya mengalami masa-masa yang tidak enak, sehingga saya jadi sedikit pendiam dengannya dan hemat bicara. Lantas saya berpikir betapa indahnya jika saya jadi bisu. Semoga ini bukan gejala orang yang mau gila. Namun pada akhirnya saya tahu, bahwa tidak bisu tetap lebih baik. Salah satu nikmat dari Tuhan yang terkadang kita lupa untuk mensyukurinya. Tidak, mungkin kita tidak lupa untuk bersyukur. Kita hanya sekedar tidak ingat untuk meluangkan waktu guna berpikir tentang sedikit dari sekian pemberian dari Yang Maha Memberi. Atau bukan kita? Agaknya lebih tepat kalau lebih ke saya. Ya, mungkin saya pernah berhenti berpikir. Hingga tidak sempat berpikir tentang hal-hal sederhana namun besar maknanya. Kalau pemikiran ini diperluas seluas puas dengan secara sedikit cerdas. Maka berbahagia mereka yang tidak bisu, tuli, buta dan sebagainya jika bisa memanfaatkannya secara bijaksana. Bukan begitu? Bukan? Lantas Bagaimana?

Jadi tepatnya bagaimana saya esok hari? Entah. Dengan keadaan saya seperti ini, mungkin saya masih jadi “bisu suri” -bisu sementara- dengan keyakinan bahwa kemampuan bicara adalah sesuatu yang harus disyukuri. Dengan apa? Salah satunya dengan menjaganya dari perbuatan yang tercela dan juga sia-sia. Bisa jadi kita membisu, namun jangan sampai pernah membisu untuk bersyukur, meski dalam hati. Memang kita memang bukan malaikat, namun setidaknya berusaha untuk jadi manusia yang sedikit banyak berupaya taat. Selesai sampai disini.

Advertisements
Categories: Pribadi
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: