Home > Celoteh > Rejeki Masing-masing

Rejeki Masing-masing

Pernahkan kita cemburu terhadap keberhasilan orang lain? Hal ini saya rasakan dan menjadi bahan renungan baru-baru ini. Ya.. ya.. ya.. setelah lolos dari bangku kuliah, seperti biasanya, kita akan berusaha untuk mendapatkan pekerjaan yang kita inginkan. Dengan idealisnya, kita berusaha untuk mengincar perusahaan-perusahaan impian kita, yang menawarkan gaji yang besar, yang memberikan jaminan di hari tua, yang ramai dengan bonus dan insentif, yang menawarkan berbagai macam fasilitas dan tunjangan, yang menawarkan jenjang karir, yang memberikan ini dan itu…. dan tak lupa juga memberikan kebanggaan… hohoho..

Namun, semua itu tentu tidak mudah, seleksi yang ketat diperberat dengan saingan yang begitu kompetitif, mengakibatkan turunnya “standart” perusahaan impian kita. Sehingga akhirnya tak terasa, lama sudah kita menjadi pemburu kerja… sedangkan satu persatu teman-teman kita ternyata sudah menjadi pegawai perusahaan besar ini dan itu.

Jika kita belum bekerja, maka telinga ini akan menjadi sakit kalau mendengar teman kita sudah mendapatkan pekerjaan. Jika kita sudah dapat kerja, kita merasa cemburu saat mendengar teman kita bekerja di perusahaan besar. Saat kita sudah mendapat pekerjaan dengan gaji yang cukup kita masih juga sesak ketika melihat teman kita gajinya berjuta-juta. Kalau seperti ini tentu tidak akan selesai-selesai bukan? Lantas, kita jatuh menjadi manusia yang tidak mensyukuri nikmat yang ada pada kita, dan berprasangka bahwa Allah tidak adil. Naudzubillah.

Percayalah, sesungguhnya rejeki itu sudah ketetapan Allah Subhanahu Wata’ala. Masing-masing sudah punya jatah sendiri-sendiri. Kewajiban kita adalah berusaha dan berdoa… lantas kita tutup dengan tawakal. Teman-teman yang sudah menjadi pegawai ini dan itu, mungkin memang rejeki mereka disitu. Sudahlah! Kita sudah punya garis rejeki sendiri… asal kita tidak berhenti usaha, doa, dan tawakal. Insya Allah!

Kita menjadi kurang bersyukur, ketika senantiasa melihat mereka yang diatas… mungkin kita harus sesekali melihat yang dibawah. Atau bisa jadi seharusnya seringkali bukan sesekali. Disana ada yang hidup dengan penghasilan jauh di bawah kita, berangan-angan seminggu mendapatkan upah barang sepuluh dua puluh ribu. Masih ditambah dengan istri dan anak-anak yang harus dihidupi. Btw, roda kehidupan masih terus berjalan. Tidak ada kata menyerah dan berhenti untuk mencari rezeki yang halal.

Melihat ke bawah insya Allah akan membuat kita lebih bersyukur. Menghindarkan penyakit hati seperti iri dan dengki. Tidak hanya itu, bahkan mengetuk hati kita untuk lebih peka dan bisa saling berbagi. Wallahu a’lam.

Advertisements
Categories: Celoteh
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: