Home > Celoteh > “Tolong” dan “Terimakasih”

“Tolong” dan “Terimakasih”

Saya punya teman sekantor yang ketika ada keperluan dengan orang lain senantiasa mengucapkan kata tolong, dan setelah itu mengucapkan terimakasih. Baik ketika permintaan itu disampaikan dalam suasana yang serius dan formal maupun dalam suasana yang santai. Baik ketika permintaan itu disampaikan ketika bertemu langsung ataupun by phone, bahkan ketika disampaikan dalam bentuk pesan singkat (sms).  Itu semua dilakukan secara tulus dan tidak merubah suasana menjadi kaku.

Saya begitu terkesan dengan kebiasaan beliau yang seperti itu. Apa yang aneh dari kebiasaan itu? Sebenarnya bukan sesuatu yang aneh, bahkan merupakan sebuah bentuk akhlak dan adab terhadap sesama manusia. Dan terus terang saja, saya pribadi merasa dihargai sebagai seorang mitra kerja dengan sikap beliau yang seperti itu.

Membandingkan dengan saya yang sering lupa mengucapkan kata “tolong” maupun “terimakasih” saat ada keperluan terhadap orang lain… hm, sungguh saya cukup malu terhadap diri saya. Namun tidak ada kata terlambat bukan untuk merubah diri sendiri bukan? Terlalu sepele? Sederhana mungkin, namun akhirnya hal yang “remeh” ini dapat membuat orang lain merasa dihargai. Tentunya tanpa harus merubah suasana menjadi kaku. Yup, dan akhirnya sesuatu yang besar memang dimulai dari sesuatu yang kecil….

Advertisements
Categories: Celoteh
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: