Home > Celoteh > Sepatu Untuk Bush

Sepatu Untuk Bush

Ada-ada saja dunia ini. Seorang wartawan Iraq memberikan salam perpisahannya kepada Mr. Bush dengan lemparan sepasang sepatu pada sebuah acara jumpa pers. Lemparan sepatu pertama dapat dihindari secara refleks oleh Bush (bagus juga refleksnya… hehehe).

Tidak puas karena meleset, maka sepatu kedua melayang sesaat kemudian, namun sayang dapat ditangkis oleh perdana mentri Iraq yang kebetulan ada disamping Bush. Bayangkan saja, seorang presiden negara adidaya dihinakan oleh sepasang sepatu butut. Namun itulah kenyataan seorang penjahat perang menjelang akhir masa jabatannya sebagai presiden.

Adalah Muntazar Zaidi seorang wartawan dari stasiun TV Al-Baghdadia yang menyimpan kebencian mendalam kepada penjahat perang tersebut. Dan emosinya meluap saat bisa bertatap muka secara langsung dalam sebuah acara jumpa pers tersebut. Bisa ditebak, sesaat setelah insiden tersebut, Zaidi segera diamankan oleh pihak yang berwajib.

Yup, ini memberikan pesan singkat berupa ekspresi kebencian, rasa tidak puas atas segala tindakan agresi militer Amerika terhadap Iraq, sebuah negara yang berdaulat atas dasar tuduhan yang dibuat-buat dan tidak pernah terbukti. Korban terus berjatuhan, dan perang antar faksi membuat stabilitas negara ini menjadi labil. Sehingga mau tidak mau masih harus bergantung kepada negara lain, dalam hal ini negara-negara barat yang melakukan agresi.

Namun seperti keping mata uang yang punya dua sisi. Pahlawan bagi sebagian, namun bagi sebagian yang lain adalah pecundang dengan sikap barbar. Hmm jika dibandingkan kekacauan (kerugian harta maupun jiwa) yang ditimbulkan akibat agresi militer amerika ini, sepasang sepatu agaknya masih lebih “beradab” daripada lemparan kotoran unta atau lemparan bom misalnya hehe.

Secara de yure Iraq sekarang merupakan negara yang baru berdiri kembali walaupun secara de facto daerah kekuasaan dan perlawanan kelompok-kelompok anti pemerintahan masih terjadi dimana-mana. Tentunya Zaidi harus sadar bahwa tindakannya ini akan diproses oleh hukum yang dianggap positif oleh pemerintahannya. Bagaimanapun penyerangan terhadap orang lain meskipun itu kafir, namun dilindungi dan terikat perjanjian oleh pemerintah tidak dapat dibenarkan. Kecuali kalau Zaidi menganggap bahwa Iraq belum berdaulat, sehingga tidak ada pemerintahan yang wajib ditaati.

Btw, sebenarnya kita bisa belajar dari keadaan Iraq, bahwa perebutan kekuasaan terhadap pemerintah yang sah agaknya belum tentu akan menghasilkan kebaikan. Kita pernah lihat bahwa ketika Saddam Husein digulingkan betapa rakyat Iraq bersorak gembira menyambutnya. Ekspresi lempar sepatu ditujukan kepada patung Saddam, yang dinilai sebagai lambang razim tirani yang kejam dan dzalim. Seolah-olah perubahan besar menuju hidup yang lebih baik ada di depan mata. Namun bukan keadaan yang lebih baik yang didapat malah perang saudara antar faksi yang tak kunjung usai, angka kriminalitas yang tinggi, dan juga paham teroris dan radikal semakin berkembang.

Benar! Saddam memang kejam dan dzalim. Namun kalau boleh jujur, keadaan Iraq sekarang ini tidak lebih baik ketika dibawah kekuasaan Saddam. Mungkin memang ketika Saddam berkuasa setahun bisa menimbulkan korban ratusan nyawa. Namun sekarang ratusan nyawa hilang bukan dalam hitungan tahun, bisa jadi bulan, bahkan hari….

Advertisements
Categories: Celoteh
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: