Home > Celoteh > Kita Butuh Hari Ibu?

Kita Butuh Hari Ibu?

Hm, demikian indahnya Islam mengajarkan tentang adab kepada orang tua dalam rangka berbakti kepadanya. Banyak ayat dan hadits yang menyerukan perintah untuk berbakti kepada orang tua:

“Sembahlah Allah dan jangan kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua Ibu Bapak”. (An Nisa’ : 36)

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan.” (Al Isra’ : 24)

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang Ibu Bapanya, Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Maka bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang Ibu Bapakmu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu.” (Luqman : 14).

Dan berbakti kepada Ibunda memiliki keutamaan tersendiri. Sebagaimana telah digambarkan dalam ayat di atas, bahwasanya ketika ibu sedang mengandung maka penderitaannya sedemikian hebatnya, dalam keadaan lemah, “membawa” kita kemana saja, kadang hilang nafsu makan, kadang tidak bisa tidur nyenyak, dan itu selama 9 bulan. Setelah itu melahirkan kita, berjuang dengan taruhan nyawa. Masya Allah.

Sudah sampai disitu aja? Ternyata tidak, mereka berusaha membesarkan anaknya, berusaha memberikannya yang terbaik. Asi yang terbaik yang beliau mampu. Makanan yang halal dan thoyib yang mereka bisa. Tidak rela anaknya kesusahan, mendidiknya dengan keshalihan meskipun kadang ibu kita merasa bukan sebagai hamba yang shalihah. Dan itu berlangsung hingga akhir hayat beliau. Subhanalllah.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallhu ‘anhu berkata: Telah datang seorang laki-laki kepada Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam lalu bertanya: “Siapakah manusia yang paling berhak untuk aku layani dengan sebaik mungkin?” Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Ibumu.” Orang itu bertanya lagi: “Kemudian siapa?” Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Kemudian ibumu.” Orang itu terus bertanya: “Kemudian siapa?” Rasulullah saw bersabda: “Kemudian ibumu.” Orang itu terus bertanya: “Kemudian siapa?” Rasulullah Sholallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Kemudian ayahmu.” (Hadits riwayat Bukhari )

So, berbakti kepada orang tua, khusunya ibunda tercinta sudah merupakan sebuah kewajiban kita. Bahkan meskipun orang tua kita tidak menyayangi kita.

Jika kita menerapkan hal ini pada kehidupan kita, maka niscaya ibu kita tidak butuh “Hari Ibu”. Apa sih arti satu hari yang diberi label sebagai HARI IBU? Hari untuk merayakan/peringatan peran seorang ibu? Hm sungguh kita diajarkan untuk menjadikan hari-hari kita selama hidup kita untuk berbakti kepadanya. Berbakti ketika beliau hidup, dengan beradab, berperilaku penuh penghargaan dan penghormatan kepada beliau, merawat beliau hingga akhir hayat beliau. Dan berbakti setelah beliau wafat dengan mendoakan beliau. Niscaya dengan ini sepanjang hari-hari kita menjadi “hari ibu” untuk ibu kita. Bukan sebatas satu hari peringatan. Bukan sebatas satu hari perayaan. Hanya perayaan.

Jadi, Apakah kamu atau ibumu butuh hari Ibu? Kalau aku dan ibuku tidak butuh hari ibu. Karena agama yang sempurna ini telah mengajarkan aku bagaimana cara berbakti kepadanya. Insya Allah, semoga ananda memberikan yang terbaik yang ananda bisa di dunia dan akhirat untuk ibunda dan ayahanda tercinta. Amin.

Advertisements
Categories: Celoteh
  1. No comments yet.
  1. 04/01/2010 at 2:21 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: