Home > Celoteh > Memilih TIDAK MEMILIH

Memilih TIDAK MEMILIH

Pemilihan Umum untuk wakil rakyat telah berlalu. Hingar bingar kampanye masih menyisakan sedikit sampah-sampah bendera partai, poster-poster, foto-foto caleg, dan segala atribut partai di sekitar kita. Entah itu di dinding pagar rumah, pohon-pohon peneduh jalan maupun di berbagai fasilitas umum. Sebuah potret yang kurang simpatik. Sama sekali sangat bertolak belakang dengan janji-janji manis yang sok simpatik yang dilontarkan para calon wakil rakyat di atas podium-podium di sela-sela selingan musik dangdut ….

Btw, saya pribadi ucapkan terimakasih kepada bapak-bapak Satpol PP yang berusaha menertibkan segala atribut kampanye partai baik sebelum, semasa, dan sesudah masa kampanye. Berikut semua orang yang mau ambil bagian untuk menjaga lingkungannya….

Bicara tentang pemilihan umum 2009, maka kita akan mendapatkan kenyataan bahwa Golput semakin meningkat secara signifikan. Menurut penelitian dari LP3ES, Pemilihan Umum 2009 meraih rekor golput yang fantastis, menembus angka 30%. Alternatif pilihan partai yang semakin banyak tidak menekan angka golput. Sungguh ironis, ketika partai semakin banyak, golput juga semakin meningkat…

Jika anda menganut paham Demokrasi, maka selayaknya anda menghormati hak pilih orang lain. Bahkan ketika mereka memilih untuk tidak memilih. Bagaimana bisa anda memaksa untuk memilih orang yang mewakili kita di parlemen, dalam keadaan kita tidak mengenalnya orangnya, track recordnya, tidak mempercayainya karena -seperti yang sudah-sudah- biasanya hanya mengumbar janji tanpa bukti dan diperparah dengan korupsi untuk mengembalikan modal awal untuk politik uang di masa-masa kampanye…. Dan yang lebih prinsip, bahwa bagaimana anda akan memaksa orang yang tidak percaya pada sistem yang ada?

Apatis? Terserahlah, tapi ini adalah ekspresi yang harus anda hormati dan anda hargai jika anda mengaku sebagai orang yang demokratis. Demokrasi seharusnya memberikan ruang sebebas-bebasnya untuk memilih baik memilih untuk memilih maupun memilih untuk tidak memilih. Ini adalah sikap sebagai harga tawar yang tinggi terhadap poli tikus dan calon legislatif yang terhormat. Dan bagi sebagian orang ini adalah perlawanan terhadap hukum manusia bernama demokrasi yang tidak barokah yang menyatakan bahwa suara rakyat adalah suara Tuhan! Gila apa, kalo mayoritas rakyatnya rusak apakah berarti sedemikian suara Tuhan tersebut juga rusak? Maha suci Allah dari pernyataan kufur itu. Adalah kepastian yang jelas bahwa suara Tuhan adalah Firman-Nya dalam Kitab Suci sesuai dengan apa yang dijelaskan sabda Nabi Sholallahu ‘Alaihi Wasallam. Lantas mengapa mayoritas suara makhluk merasa bisa mewakili suara Sang Khaliq?

Advertisements
Categories: Celoteh
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: