Home > Celoteh > “SOYO”: Ketika Tetangga Mengeluh

“SOYO”: Ketika Tetangga Mengeluh

Dusun Semambung, Grati, Pasuruan, di siang yang terik, saat sedang panas-panasnya menyengat kulit-kulit manusia yang sengaja menantang pijar nan dipancar matahari. Sekelompok manusia sedang bekerja sama demi sebuah hajat pribadi seseorang di antara mereka. Tanpa pamrih, tanpa dibayar. Karena uang berapa pun besar nilainya tidak mampu membalas seseorang yang paling pertama mengurus mereka ketika mereka meninggal dunia, dibandingkan dengan sanak saudara yang paling kandung yang mereka miliki. Ya seseorang itu -si empunya hajat- tidak lain dan tidak bukan adalah tetangga mereka.

“Soyo”, demikian warga dusun Semambung mencoba menjelaskan. Yaitu ketika seorang dari tetangga mereka mengeluh tentang kesulitan mereka, maka yang lain akan berkerja sama bergotong royong  membantunya tulus: penuh dan utuh. Indah bukan? Peka rasa dan begitu mulia. Ini berbeda dengan peradaban angkuh yang acuh tak acuh dan sering mengukur semua dengan materi, menghitung-hitung untung dan rugi bahkan untuk sebuah sedekah. Mereka yang bersahaja ini ternyata lebih mampu memaknai arti hidup bertetangga dengan sebuah sikap penuh adab. Apalagi kalau bukan tradisi “peduli” terhadap sesamanya?

Kali ini  adalah dalam rangka membantu tetangga yang sedang membutuhkan tenaga untuk membangun rumahnya. Mereka bekerja sama membantu atas nama pribadi, atau nama organisasi seperti pemuda masjid / karang taruna. Mulai dari mengaduk semen, menata bata, menyusunnya, dan lain-lain. Sekali lagi tanpa pamrih. Sekedar sambung rasa untuk meringankan beban tetangga. Cukuplah sekedar makan siang ala kadarnya dan sehisapan linting tembakau (sayangnya… 😦 ) yang disediakan oleh sang empunya hajat juga basa basi yang tak pernah basi untuk tawa renyah yang selalu bisa mencairkan suasana dan membuang rasa letih. Adapun uang lelah yang diberikan masuk ke dalam kas dusun atau kas organisasi masjid dan digunakan untuk kepentingan umum. Selain itu si empunya hajat hanya mengeluarkan uang untuk membeli bahan bangunan dan menyewa alat-alat.

Meskipun bukan sesuatu yang baru, karena saya sendiri pernah mendengar hal serupa dengan nama yang berbeda di beberapa daerah lain seperti “sambatan”, “gugur gunung” dan lain lain. Tapi itu hanya mendengar dari guru dan membaca dari lembar-lembar kertas kusam buku-buku pelajaran waktu sekolah dulu. Dan sekarang saya melihatnya dengan mata kepala saya sendiri. Subhanallah.
Mereka bisa. Sekarang mampukah kita seperti mereka?

“Sebaik-baik teman di sisi Allah adalah orang yang paling baik terhadap temannya, dan sebaik-baik tetangga di sisi Allah adalah orang yang paling baik terhadap tetangganya.” (Hadits riwayat At Tirmidzi, dari sahabat Ibnu Umar, dishahihkan Asy Syaikh Al Albani dalam Al Adabul Mufrad no. 115 )

Sahabat Ibnu umar berkata: “Telah datang kepada kita suatu zaman, dimana dahulu tidak ada seorang pun yang mengutamakan dinar dan dirhamnya (jenis mata uang -pen) dibandingkan saudaranya muslim, namun sekarang dinar dan dirham lebih kita cintai dibanding saudaranya yang muslim. Padahal aku mendengar Rasulullah bersabda: “Betapa banyak kelak pada hari kiamat seseorang yang nasibnya bergantung dengan tetangganya. Ia berkata kepada Rabb-nya: Yaa Rabb-ku! Orang ini telah menutup pintu bagiku, sehingga mencegahnya untuk berbuat baik.” (Al Adabul Mufrad no. 111, dishahihkan Asy Syaikh Al Albani)

Advertisements
Categories: Celoteh
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: