Home > Celoteh > Cukup Untuk Hidup ?

Cukup Untuk Hidup ?

Perbincangan ini dimulai setelah saya mencoba untuk membandingkan pengeluaran saya dengan teman satu kantor, dan satu kos. Sebuah diskusi kecil-kecilan yang dimulai dengan pertanyaan, “Kamu sebulan sekali ngambil atm berapa?” (buset dah atm diambil… 😀 ). Saya yang terbiasa tidak pernah hitung-hitung pengeluaran saya setiap bulannya, mulai khawatir barangkali saya terlalu boros, meskipun tidak pernah sampai besar pasak daripada tiang. Masih ada saja sisa yang ditabung. Alhamdulillah.

Bulan ini memang saya mencoba untuk bertahan hidup dengan uang 500ribu. Dan ternyata, sekarang sudah menipis. Saya berusaha hitung-hitung sederhana dengan asumsi sebulan 30 hari.

Bayar kos sebulan Rp 200.000 (sudah termasuk biaya cuci pakaian kecuali daleman 😀 , listrik, iuran galon minum, dan bebas masak mie pake kompor gas ibu kost 😛 ).

Makan dianggap saja sehari Rp 10.000 yang pasti sudah sehat dan mencakup 3 kali makan X 30 hari = Rp 300.000. Ini untuk kasus irit makan murah meriah hehe 🙂 .

Itu saja udah 500 ribu sendiri. Dan ternyata… saya masih butuh biaya untuk pulang Semarang (target sebulan sekali) anggap aja Rp 200.000 pulang balik Pasuruan Semarang. Kemudian untuk beli pulsa??? DOH! Belum lagi ada biaya-biaya tak terduga lainnya 😦 .

“Kalau untuk berkeluarga gaji kita yang sekarang cukup ga ya?”, celetuk teman saya. Saya tersenyum, ternyata dia sudah berpikir mau nikah segala hehehe. “Kalau untuk biaya anak-anak cukup juga ga ya?”. Tak bisa menahan tawa saya, “Ga cukuplah. Kamu sudah berpikir punya anak segala hehe, kita saja belum diangkat jadi pegawai, masih prajabatan begini kekekeke”. Kemudian dengan mimik wajah yang tak berubah dia berkata, “Bukan kita tapi buat yang lain…”. Terhenyak. Sunyi. Saya merasa ditusuk.

Disana masih ada pegawai yang mungkin penghasilannya sama atau bahkan lebih rendah dari kami. Dan mereka masih memikirkan keluarga anak-anak mereka. Bahkan bagi mereka yang tidak menyandang gelar “pegawai” seperti tukang becak, tukang sayur, kuli bangunan… Mereka-mereka yang merasa cukup bertahan dan bersyukur dengan apa yang mereka dapatkan dan berusaha untuk yang lebih baik. Jerih payah dan doa semoga senantiasa mendapat yang berkah.

Akhirnya secara sederhana saya simpulkan dari bincang-bincang singkat ini adalah: cukup tidak cukup penghasilan kita adalah tergantung gaya hidup kita sendiri. Gaji 5 jutapun kalo gaya hidup kita seperti orang yang gajinya 10 juta pastinya akan merasa selalu kurang. Coba kita lihat para koruptor, yang gajinya berpuluh-puluh juta, masih saja mereka masih saja “mencari-cari”. Karena apa? Ya gaya hidup mereka yang bermasalah, sehingga selalu merasa kurang. Namun coba kita lihat petani, buruh, guru, gaji mereka tidak banyak, namun mereka bisa cukup. tak jarang mampu mengantarkan keberhasilan ke anak-anak mereka. Kesimpulan ini bukan sesuatu yang baru, tapi seringkali kita lupa ketika tidak bisa menahan keinginan kita untuk berperilaku konsumtif.

Seperti diingatkan oleh Allah dengan caraNya yang tidak saya sangka-sangka. Kemudian tiba-tiba saja saya merasa begitu angkuh…. Sering memandang ke atas dan jarang melihat sekitar apalagi ke bawah.

Advertisements
Categories: Celoteh
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: