Home > Celoteh > Bunga di Hati Bunda

Bunga di Hati Bunda

Bukan dalam rangka menyambut hari ibu. Memang kita butuh hari ibu? Dan saya juga orang yang tidak suka dengan acara ulang tahun. Hanya saja, wanita itu ingin dimengerti. Wanita juga suka sekali diberikan perhatian. Meskipun sekedar perhatian kecil terhadap hal yang remeh, semisal ingat kepada hari ulang tahunnya.

Dan ibu saya termasuk dalam makhluk halus yang bernama wanita (Ya… halus perasaannya) yang bertambah usianya satu tahun pada tanggal 19 Desember yang lalu. So, karena wanita suka diberi perhatian, maka saya coba memberikan kejutan berupa bingkisan bersahaja yang bernama perhatian di usia beliau yang sudah menginjak kepala 4.

Bingkisan bersahaja itu dimulai dengan kepulangan tiba-tiba ke Semarang. “Assalamualaikum. Met ultah… mau hadiah ga? Kalo mau bukain pintu pagar dong….”,kata saya lewat telepon di depan pagar rumahku setengah manja. Hehe, Alhamdulillah sudah tercipta lengkung senyum yang mengembang lepas yang menyambutku…. Manis sekali. Yup, ibuku memang cantik. Dan senyum itu semakin manis, ketika adikku memberikan kado cantik bagi ibunda. Alhamdulillah.

Hari itu dirasa semakin indah oleh bunda, ketika sebuah roti tart datang ke rumah. Hohoho siapa ini yang kirim? Saya memang tidak suka acara ulang tahun. Tapi kalo makan roti tart hehehe jangan ditanyalah. Nyam nyam nyam.

Kemudian sepanjang hari yang penuh dengan senyum itu kami tutup dengan nonton dan makan bareng. “Sang Pemimpi”nya Andrea Hirata dan Sop Buntut Lombok Ijo jadi pilihan kami. Sayang, ayahanda masih ada di Bangka tidak bisa berbagi hari itu dengan kami.

Yah, itulah sepenggal cerita hari istimewa yang membuat hati bunda berbunga-bunga. Tentu Insya Allah, salah satu bunga di hati bunda adalah bingkisan sederhana dari saya. Dari anak lelakinya yang paling tampan ini… 😀 dengan sekuntum rindunya. Yup, from Grati with love.

Btw, Dengan bertambahnya usia beliau berarti berkurang pula umur beliau dari jatah umur yang diberikan kepada Allah kepada beliau. Wallahu a’lam. Artinya, semakin pendek kesempatan waktu untuk berbakti kepada beliau. Dan bila ternyata saya yang harus terlebih dahulu menghadap-Nya? Ah… seandainya setiap hari saya senantiasa bisa menanam bunga di hati bunda….

Advertisements
Categories: Celoteh
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: