Home > Celoteh > Nilai Rasa “JANCUK”

Nilai Rasa “JANCUK”

Sekali-kali saya menulis sesuatu yang “dewasa” boleh kan? Topik kali ini adalah tentang mengumpat, tentang kata kata makian yang sering diucapkan sehari-hari namun manusia menganggapnya sesuatu yang wajar. Entah hilang nilai rasa kata tersebut atau malah manusia yang semakin tidak peka rasa? Namun begitu tidak ada maksud saya untuk membudayakan mengucap kata makian. Minimal untuk mengingatkan diri sendiri.

Sudah hampir setahun saya di Pasuruan Jawa Timur. Selain akrab dengan pecel dan rawon serta dialek Suroboyoan yang menurut saya lebih egaliter dari pada dialek Jawa Jogja Solo yang berbau feodal, saya juga akrab mendengar kata-kata makian yang demikian populer di seantero Jawa: JANCUK.

Peringatan, Anak-anak dibawah umur sebaiknya jangan baca dulu ya…. 🙂

Kata jancuk seringkali diucapkan baik dalam keadaan memaki yang sebenarnya, emosi, luapan rasa heran, sampai panggilan akrab kepada teman karib. Aneh ya? Ketika mereka marah, mereka mengumpat, “DJIANCOEK!”. Namun pada saat menyapa sahabat mereka juga menggunakannya,  “Yok opo cuk?”. Artinya “Bagaimana, Cuk?”. “Cuk” disini digunakan untuk kata ganti teman yang disapa dan juga kependekan dari jancuk. Kalo di Semarang mungkin sejenis, “Piye kabarmu,Su?”. “Su” disini kependekan dari asu yang artinya anjing. Namun dipakai sebagai sapaan bahasa pergaulan teman akrab. Lalu bagaimana kita tahu itu berwujud emosi atau keakraban? Kita bisa tahu mereka maksud mereka untuk memaki atau tidak memaki dari mimik muka mereka dan nada bicara. Paham kan?

Kata jancuk bukan semata mata milik orang tua. Tua-muda, pria-wanita, bahkan anak-anak tak jarang mengucapkan kata-kata ini. Penasaran, maka saya tanyakan kepada mereka, Apa sih arti kata jancuk? Tentunya saya tanyakan kepada anak remaja dan teman-teman sekitar yang sepantaran. Menanyakan kepada orang tua? Sebagai anak yang dibesarkan di lingkungan “jawa tengah”, saya merasa tidak pantas untuk bertanya hal itu kepada orang tua. Dan ternyata saya menemukan kenyataan bahwa sebagian besar anak anak atau teman-teman yang bahkan asli Jawa Timur, tidak mengerti arti kata jancuk. Biasanya mereka hanya menjawab, “Itu kata kasar untuk memaki.” tanpa tahu arti kata itu. Untuk kasus ini saya menanyakan kepada teman saya yang asli Madiun dan Jombang.

Namun akhirnya saya dapatkan juga arti kata jancuk. Jancuk berasal dari kata diancuk, di + ancuk. Yang artinya disetubuhi. Kalau dalam bahasa inggrisnya mungkin bisa disamakan dengan kata makian “fuck you”. Hm, kasar ya? Tidak. Tidak kasar. Tapi kasar sekali. Namun anehnya kata itu akrab diucap remaja bahkan anak-anak yang tak jarang tidak tahu artinya. Mereka mengucapkan karena hanya ikut-ikutan orang-orang yang lebih dewasa. Dan akhirnya menjadi suatu budaya wajar, kalau mau mengumpat ya mengeluarkan kata jancuk.

Kasus seperti ini pernah juga saya alami di Semarang. Dulu waktu saya kecil saya sering mendengar teman-teman saya yang lebih dewasa mengumpat “Teke”. Contohnya, “Teke, ngono wae ra iso”.  Artinya, “Teke, begitu aja tidak bisa”. Ketika saya tanyakan kepada mereka, tidak ada yang tahu. Dan akhirnya saya baru tahu kalo teke itu kependekan dari uteke yang artinya otaknya. Jadi kalimat yang tadi bisa diartikan, “Otaknya gimana sih, gitu aja ga bisa”. Ampun deh, kasar banget ya?

Akhirnya sedikit berteori: frekuensi pengucapan kata-kata kasar berbanding terbalik dengan nilai rasa dan kepekaan kita. hehehehe. Artinya ketika kata-kata kasar seperti itu semakin sering diucapkan, maka nilai rasa “tabu” kata itu akan hilang, selain itu kepekaan kita pun semakin tumpul. Singkatnya kita akan terbiasa. Tidak ada lagi rasa tidak enak, tidak ada lagi rasa tidak sopan.

Setelah sedikit mengasah kepekaan dan nilai rasa yang masih tersisa, masih pantaskah kita mengucapkan kata-kata seperti itu? Masihkan kita turut me”wajar”kan kata-kata seperti itu sebagai bahasa pergaulan? Sehingga secara tidak langsung memberikan “teladan” buruk bagi yang lain. Tentunya ini tidak hanya terbatas dengan kata “jancuk” saja.

Dan relakah kita mendapati anak-anak kita nantinya, atau keponakan kita, sanak saudara kita (atau bahkan kita sendiri) terbiasa dengan kata-kata seperti itu tanpa ada rasa tidak sopan bahkan mengucapkan kata-kata seperti itu tanpa tahu artinya? Terbawa arus pergaulan yang menganggap wajar umpatan kasar?

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS Al Israa:36)

Dan apakah kita yakin ketika kata-kata seperti itu diucapkan tidak menyinggung perasaan meski diucapkan dalam suasana penuh “keakraban” ?

“Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela.” (QS Al Humazah:1).

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” (QS Al Hujurat:11)

Tulisan ini setidaknya sebagai nasihat kepada diri sendiri. Wallahu a’lam.

Advertisements
Categories: Celoteh
  1. Ahmad Sujiwo Rahardy
    11/05/2010 at 6:19 am

    Mungkin masalah sense aja kali, Mas. Contohnya, orang JaTeng mbedakan “kepala” jadi 2, yaitu “sirah” ama “endhas”. Kalo di JaTim Arekan (Surabaya-Malang dsk), cuma 1 yang diucapkan, “endhas”. Jadi ya tergantung konteks aja.

    Biar Wong Semarang sama Arek Suroboyo itu sama2 Jawa, tapi karena pada dasarnya udah beda dialek, dalam tataran tertentu omongan mereka bakal sulit nyambung.

    purwanindita: hm… betul betul betul… 😛

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: