Home > Celoteh > Dia dan Ayahnya

Dia dan Ayahnya

Seiring bertambah dengan usia, dia semakin mirip dengan ayahnya. Bentuk wajah. Cara melihat. Cara berjalan. Perawakannya yang mulai gempal. Lengan yang mulai membesar. Suara yang keras. Dan juga karakter yang telah lama terpahat: watak yang keras seperti batu. Namun dia tidak begitu suka dengan hal itu. Dia tidak mau disamakan dengan ayahnya. Dia membenci jika seorang kerabatnya dalam sebuah acara pertemuan keluarga menyatakan takjubnya bagaimana dia sangat identik dengan ayahnya. Ya dia benci dan takut kepada watak ayahnya yang keras seperti batu itu yang ternyata diwarisinya tanpa sadar seiring waktu….

Seperti halnya dengan anak-anak kebanyakan yang lain, yang lebih dekat dengan ibunya dibandingkan dengan ayahnya. Seperti itu juga dengannya. Yang mungkin sedikit berbeda, masa kecilnya dengan sang ayah tidak terlalu manis. Ia mengingat ayahnya sebagai sinis dan tidak demokratis. Ayah adalah amarah dan tak pernah mau salah. Ayah adalah aturan yang sangat arogan. Dingin yang paling kaku. Sulit untuk meluang waktu. Ayahnya sangat pandai bicara berdebat kata.

Sebaliknya dia lebih memilih bisu memendam bungkam. Tidak berani mengeluarkan pendapatnya. Kalau dia bicara maka, ujung gagang sapu kalau ayahnya mau, bisa bicara pada punggung badannya. Ya kata-kata gagang sapu tidak pernah bisa dia dengar. Tapi dia dapat mengingat rasanya: pedas membekas. Oleh karena itu ayahnya semakin jauh dan asing. Bagaikan raja yang terpenjara oleh kuasanya sendiri. Tidak seperti ibunya yang selalu hangat, seperti bidadari serupa malaikat juru selamat….

Ya itu adalah cara ayahnya memahat dirinya. Bukan berarti bahwa ayahnya tak sayang. Tapi tak ingin dia menjadi manja. Namun sang anak mulai banyak belajar dari ayahnya. Secara tidak langsung. Bagaimana amarah itu pecah. Bagaimana arogan itu dilawan. Bagaimana menjadi batu. Bagaimana berontak pada setiap bentak. Bagaimana menangkis gagang sapu atau bilah bambu. Sehingga tahu, harus ditangkis dengan bagian tubuh apa sehingga tidak terasa terlalu sakit. Lambat laun… pelajaran yang ditanam dalam dalam kini harus dipetik buahnya….

Dan akhirnya buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Ketika ia melihat ayahnya, sejatinya dia melihat dirinya sendiri. Menyedihkan. Dia menjadi arogan yang membeci arogansi. Dia absolut yang membenci anti demokrasi. Dia dingin yang paling beku. Dia batu yang paling legam seperti logam. Dia ledak yang memebenci setiap bentak. Ayahnya peluru dan dia adalah mesiu.Dia keras yang membenci kekerasan. Singkatnya dia adalah ayahnya. Membenci ayahnya ternyata sebenarnya adalah membenci dirinya sendiri….

Dan mungkin di masa mendatang anaknya akan membenci dirinya sebagaimana dia tidak menyukai ayahnya. Itu jika dia terjebak pada masa lalunya dan mengulang menjadi ayahnya: arogan dan merasa perlu bicara lewat gagang sapu pada punggung anaknya daripada bicara dengan kata-kata dari hati ke hati.

Akhirnya, semoga belum terlambat untuk kita memetik pelajaran dari kisah ini dan memperbaiki diri. Entah itu mereka yang sudah atau akan menjadi Ayah dan mereka yang sedang menjadi Anak.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman (artinya): “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya….”, hingga akhir ayat berikutnya : “Mereka itulah orang-orang yang kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga. Sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka.” (QS. Al Ahqaf 15-16)

Advertisements
Categories: Celoteh
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: