Home > Celoteh > Anak di Pentas Bakat

Anak di Pentas Bakat

Pada layar kaca di suatu malam. Di atas panggung pentas bakat yang dibingkai oleh hingar bingar sahutan dan tepuk tangan penonton, satu persatu peserta menampilkan bakat yang ia miliki berharap menjadi pilihan berdasarkan perolehan polling sms.  Pria, wanita, tua, muda, anak-anak, tunggal maupun berkelompok,  turut serta berlomba mencoba menjadi jawara di hati pemirsa. Tunggu dulu, anak-anak? Yup! Anak-anak juga.

Dan anak-anak itu berhasil mencuri perhatian. Orang dewasa itu biasa! Dengan masa hidup yang sudah lama, tentu asam garam pun sudah pernah dirasakan ketika mengasah bakat mereka sehingga sedemikian tajam. Namun anak-anak? Tentu memiliki nilai lebih di sisi dewan juri. Jika masih kecil saja sudah sedemikian bersinar, tentu ketika dewasa akan semakin menyilaukan.

Bermacam-macam unjuk bakat ditampilkan oleh anak-anak itu. Meski lain orang dan berbeda bidang seni, namun ada satu yang sama selain usia mereka yang masih belia. Mereka, di atas panggung itu, di hadapan kita semua, secara tidak langsung dipaksa diarahkan untuk bergaya seolah telah dewasa. Melalui musik dan iringan lagu-lagu cinta, gemerlap gaun yang mereka pakai, riasan wajah yang tebal, maupun aksi-aksi di atas  panggung. Namun tetap saja, bedak putih dan gincu merah itu tak mampu menutupi bahwa mereka masih hijau. Sorot mata mereka yang masih jernih seolah berkata lirih, “Aku masih kecil…”

Di penghujung acara kemudian, dinyatakan bahwa anak-anak berbakat itu merupakan bakat-bakat pilihan yang berhak untuk tampil di babak kompetisi berikutnya. Kebahagiaan seketika menjadi atsmosfir yang berderaian hujan air mata. Dan orang tua mereka pun turut hanyut dalam rasa haru.

Satu persatu orang tua anak diwawancarai untuk sambutan singkat.  Sambutan mereka pun beragam. Ada yang melampiaskannya dengan teriakan penuh semangat kebanggaan. Ada yang berlebihan meluapkan kegembiraan.  Ada juga yang terbata atau bahkan diam tak mampu lagi bicara sepatah kata.

Yang kemudian membuat hati saya mendadak sunyi terlepas dari gemuruh panggung adalah kata-kata lugu seorang ibu tentang keberhasilan gadis kecilnya, terbata di sela-sela air matanya, “Saya kira semuanya pada ngerjain anak saya…. kan kasihan anak saya…..”

Orang tua boleh merasa bangga ketika anak menang dalam ajang unjuk bakat. Terbayang besarnya hadiah yang berupa uang yang mereka terima. Belum lagi mungkin adanya kontrak dengan stasiun televisi yang akan mereka tanda tangani, tentunya ini uang lagi. Belum lagi kemungkinan adanya tawaran untuk iklan, sinetron, rekaman album, atau bahkan film. Ini berarti uang uang dan uang! Namun aneh untuk ibu satu ini, kata-katanya singkat tapi dalam menusuk hati saya.

Dan saya mencoba untuk menebak-nebak apa yang ibu itu pikirkan. Mungkin ibu itu kasihan dengan anaknya yang masih kecil harus bergaya jungkir balik di atas panggung. Mungkin ibu itu tidak tega melihat anaknya diarahkan untuk bergaya dewasa dengan lapisan bedak dan sapuan gincu di bibirnya.

Jika anaknya menang nanti, terbayang betapa kemudian anaknya terikat dengan kontrak-kontrak yang akan ditandatangani: mengikat dan harus dipenuhi. Anaknya tidak bakal lagi bisa menikmati waktu bersama teman sebayanya di kampung, sekedar jajan es di pinggir jalan atau bermain lari-larian di sepanjang lorong-lorong kampung. Anaknya mungkin tidak lagi punya waktu untuk bercengkerama keluarganya.

Dan yang pasti… ibunya tidak akan siap untuk kehilangan malaikat kecilnya. Alih-alih dengan ibunya, waktu anak sekecil itu akan habis dengan segala agenda yang dibuat oleh manajernya. Singkatnya ibunya takut anaknya kehilangan masa kecilnya.

Ah.. itu hanya kemungkinan-kemungkinan saja. Bisa saja tidak demikian adanya. Namun, memang menyenangkan apabila seorang anak dapat bebas melakukan apa saja yang menjadi keinginannya  sesuai dengan cita-citanya. Tentunya dengan bimbingan dan arahan orang tua, tanpa mengorbankan masa kecilnya yang seharusnya dinikmatinya. 🙂

Akhirnya saya malah merindukan kumpulan anak-anak kecil yang riang gembira mengkaji agama di surau selepas Maghrib menjelang Isya. Teduh… dan lebih mendekati fitrah…..

Advertisements
Categories: Celoteh
  1. 23/05/2010 at 10:36 am

    mangstab gan!
    cm anak jaman skr kykny udh ga musimny dpaksa2 buat tampil or nunjukin bakat, tp kdg mrka sdri yg tlalu hiperaktif pgen bisa ini itu..
    Malah justru mengaji ato sholat jd paksaan buat mereka..
    ckckck

    purwanindita: selamat, anda merupakan komentator teraktif minggu ini 🙂

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: