Home > Celoteh > Pesan dari Bungurasih

Pesan dari Bungurasih

Seorang lelaki kecil berjalan dengan langkah gontai pada suatu terminal bus yang riuh ramai. Meski bermandi cahaya lampu-lampu, namun pendar itu masih kalah dengan gelap seraut wajah resah penuh keluh kesah. Pun seolah bulan mati tak bercahaya dimakan sesak minggu-minggu lalu yang padat lagi penat. Perlahan menuju sudut trotoar yang biasanya. Ia tak sendiri di antara puluh bahkan ratusan calon penumpang menunggu Jaya Utama yang enggan datang.

“Semarang. Aku ingin segera tiba di Semarang”, bisiknya lirih pada ayunan bimbang, saat-saat Semarang tak memanggil pulang.

Bungurasih Purabaya. Terminal seribu wajah menyambut lelaki kecil itu di lorong-lorong koridor dengan pertanyaan yang sama dan tak kenal bosan tak tahu jemu. “Kemana mas? Bali Denpasar? Jakarta?”. Nanar pandang itu begitu sayu, dibingkai wajah yang layu. Lepas pukul delapan malam entah kapan mereka ini terakhir makan.

Biar nanar, mata-mata mereka yang masih liar itu berbicara kepada kami yang datang dan pergi sembari sesekali mencoba membaca wajah-wajah yang baru. Berharap mendapatkan calon penumpang. Mereka sang pejuang, membeli hidup di Bungurasih dengan teriakan-teriakan menjajakan tujuan.

“Lelah tubuh kami, tapi kami belum mau mati, anak istri kami menanti! Boleh kami redup, tapi kami tetap berjuang untuk hidup”.

Semakin larut teriakan mereka semakin nyaring tak ambil pusing sehitam apa gas buang yang dihirup dan disemainya di paru-paru….

Masih di Bungurasih Purabaya. Satu persatu bergilir pedagang asongan menjajakan barang. Mulai dari korek gas yang besar dengan fitur senter kecil untuk penerangan di saat tak terduga, sampai puzzle Upin Ipin yang katanya sangat bermanfat bagi anak: melatih otak, menambah kecerdasan dan daya kreatifitas anak. Tak ketinggalan gelang manik-manik satu tiga ribu – dua lima ribu….

Ada lagi yang menawarkan buku mewarnai untuk anak yang anak mereka sendiri belum tentu punya kesempatan untuk menyapukan warna melainkan sekedar belajar warna pelangi lewat lagu. Ada lagi buku tuntunan shalat 5 waktu dan shalat sunnah yang mungkin belum sempurna kita kerjakan. Dan masih banyak lagi. Dan masih saja tetap semangat dan menggandakan semangat itu dengan teriak-teriak yang parau, tak ambil peduli disergap dingin angin malam yang menusuk tulang rusuk.

Pasang aksi persuasi! Monolog yang sudah di luar kepala mencoba mematok harga dan posisi tawar. Tertarik tidak tertarik, urusan anda, masih banyak bus-bus yang lain dengan segudang penumpang yang menunggu berangkat. Itu artinya segudang kesempatan mengumpulkan barang seribu dua ribu.

“Rezeki memang harus kami kais, tapi harga diri kami terlalu tinggi untuk mengemis!”.

Masih seputar aksi persuasi, tak ketinggalan para satria bergitar turut menyemarakkan malam dengan denting-denting dawai yang melengking nyaring. Prolog dan epilog tertata sebelum aksi panggung sekedar menyumbang suara sumbang. Di hentak gendang, seniman jalanan mencoba memacu semangat mengusir penat. Dua tiga lagu menyapa, sangat akrab di telinga: Alun-alun Nganjuk, Prapatan jalan Mastrip sampai Jangan Menyerah-nya Dmasive. Bagi mereka receh tak kenal remeh! Performance mereka ditutup santun dengan kata-kata mutiara, ” ikhlas bagi anda dan halal bagi kami”. Dan meskipun pitch controlnya ngawur, banyak nada-nada yang meleset, namun yakin saja bila Rianti ‘Aisha’ Cartwright ada disana tentu dia akan memberikan apresiasi, “Well… good job! I like it” 🙂 Semoga Allah memberikan pekerjaan yang lebih baik bagi mereka dan lebih berkah. Amien.

Begitulah Bungurasih secara tidak langsung menyemangati penghuninya. Bungurasih mengajarkan berani untuk hidup. Pesan semangat itu disebarkan dari oleh dan untuk masyarakat Bungurasih. Namun pesan semangat itu secara tidak langsung disemaikan juga kepada mereka yang sekedar singgah silih berganti. Tak terkecuali kepada lelaki kecil yang masih harus banyak belajar di jalan panjang, siklus yang tulus tak putus: Pasuruan – Surabaya – Semarang – Surabaya – Pasuruan terus berulang….

Advertisements
Categories: Celoteh
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: