Anak di Pentas Bakat

17/05/2010 1 comment

Pada layar kaca di suatu malam. Di atas panggung pentas bakat yang dibingkai oleh hingar bingar sahutan dan tepuk tangan penonton, satu persatu peserta menampilkan bakat yang ia miliki berharap menjadi pilihan berdasarkan perolehan polling sms.  Pria, wanita, tua, muda, anak-anak, tunggal maupun berkelompok,  turut serta berlomba mencoba menjadi jawara di hati pemirsa. Tunggu dulu, anak-anak? Yup! Anak-anak juga.

Dan anak-anak itu berhasil mencuri perhatian. Orang dewasa itu biasa! Dengan masa hidup yang sudah lama, tentu asam garam pun sudah pernah dirasakan ketika mengasah bakat mereka sehingga sedemikian tajam. Namun anak-anak? Tentu memiliki nilai lebih di sisi dewan juri. Jika masih kecil saja sudah sedemikian bersinar, tentu ketika dewasa akan semakin menyilaukan.

Read more…

Advertisements
Categories: Celoteh

Mari Tersenyum…

03/05/2010 2 comments

Kapan terakhir kita tersenyum? Bukan.. bukan sekedar mengetik hehe wakaka kekeke, atau emoticon titik dua dengan tanda kurung  atau titik dua dipadu dengan huruf  “D” di baris-baris kata sapa yang maya.

Bukan hanya basa basi yang dilengkung setengah hati setiap pagi kala menyapa matahari, awan dan embun pagi dan ketika bersua dengan bangsa manusia.

Bukan pula hanya sekedar sedekah yang paling mudah pelengkap ibadah muamalah. Sekali lagi, kapan terakhir kita tersenyum?

Read more…

Categories: Celoteh

Belajar dari Pertanyaan

16/02/2010 Leave a comment

Suatu hari yang sok sibuk seorang anak manusia -sebut saja Kumbang (17)-  ditanya tentang suatu permasalahan yang berkaitan tentang aplikasi macro di excel oleh seseorang, sebut saja Bunga(40). Karena Sang Kumbang bukan seorang “excel man”, ditambah dengan beban pekerjaan yang agak overload (anggap saja begitu hehehe), merah padamlah hatinya, menahan murka berbadai-badai angin di gemuruh halilintar yang tercekat gelegarnya di tenggorokan. Sebal juga, tapi tidak ditampak kesal.  Ibarat api dalam sekam, hati mendidih berbuih-buih namun wajah tetap berusaha teduh menahan keluh. Bagaimana tidak? Sudah ada fasilitas internet dari Kantor dan sudah ada Mbah Google yang senantiasa berbaik hati menjawah pertanyaan, lalu untuk hal seperti ini masih juga tanya. “Usaha dong. Usaha!”, begitu sahutnya dalam hati sekenanya.

Mengingat pekerjaannya sebagai seorang IT Helpdesk and Support (masih prajabatan lagi), apa boleh buat apa mau dikata. Di mata orang, seorang IT Helpdesk dan Support  adalah seorang yang ahli mengerti komputer. Maka tak salah kalau kemudian jadi tempat bertanya hal-hal tentang komputer.

Read more…

Categories: Celoteh

Dia dan Ayahnya

01/01/2010 Leave a comment

Seiring bertambah dengan usia, dia semakin mirip dengan ayahnya. Bentuk wajah. Cara melihat. Cara berjalan. Perawakannya yang mulai gempal. Lengan yang mulai membesar. Suara yang keras. Dan juga karakter yang telah lama terpahat: watak yang keras seperti batu. Namun dia tidak begitu suka dengan hal itu. Dia tidak mau disamakan dengan ayahnya. Dia membenci jika seorang kerabatnya dalam sebuah acara pertemuan keluarga menyatakan takjubnya bagaimana dia sangat identik dengan ayahnya. Ya dia benci dan takut kepada watak ayahnya yang keras seperti batu itu yang ternyata diwarisinya tanpa sadar seiring waktu….

Seperti halnya dengan anak-anak kebanyakan yang lain, yang lebih dekat dengan ibunya dibandingkan dengan ayahnya. Seperti itu juga dengannya. Yang mungkin sedikit berbeda, masa kecilnya dengan sang ayah tidak terlalu manis. Ia mengingat ayahnya sebagai sinis dan tidak demokratis. Ayah adalah amarah dan tak pernah mau salah. Ayah adalah aturan yang sangat arogan. Dingin yang paling kaku. Sulit untuk meluang waktu. Ayahnya sangat pandai bicara berdebat kata.

Read more…

Categories: Celoteh

Nilai Rasa “JANCUK”

30/12/2009 1 comment

Sekali-kali saya menulis sesuatu yang “dewasa” boleh kan? Topik kali ini adalah tentang mengumpat, tentang kata kata makian yang sering diucapkan sehari-hari namun manusia menganggapnya sesuatu yang wajar. Entah hilang nilai rasa kata tersebut atau malah manusia yang semakin tidak peka rasa? Namun begitu tidak ada maksud saya untuk membudayakan mengucap kata makian. Minimal untuk mengingatkan diri sendiri.

Sudah hampir setahun saya di Pasuruan Jawa Timur. Selain akrab dengan pecel dan rawon serta dialek Suroboyoan yang menurut saya lebih egaliter dari pada dialek Jawa Jogja Solo yang berbau feodal, saya juga akrab mendengar kata-kata makian yang demikian populer di seantero Jawa: JANCUK.

Peringatan, Anak-anak dibawah umur sebaiknya jangan baca dulu ya…. 🙂

Read more…

Categories: Celoteh

Mungkin yang Terbaik

28/12/2009 Leave a comment

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Kepada Tuhan, seringkali manusia meminta sesuatu yang tidak pernah ia tahu. Ia pikir yang ia minta adalah pasti yang terbaik untuknya. Tanpa malu-malu kepada Yang Maha Pengasih lagi Penyayang cita-cita yang tinggi disematkan pada rapal doa yang dipanjatkan siang dan malam. Tak hanya doa, segenap usaha bersipayah dicurahkan, menandakan kesungguhannya. Namun ketika tidak diberi atau diberi namun tidak sesuai dengan harapan, maka sebilah prasangka ia asah tajam-tajam, kemudian dihunuskan diam-diam kepada Yang Maha Mengetahui.

Read more…

Categories: Celoteh

Bunga di Hati Bunda

21/12/2009 Leave a comment

Bukan dalam rangka menyambut hari ibu. Memang kita butuh hari ibu? Dan saya juga orang yang tidak suka dengan acara ulang tahun. Hanya saja, wanita itu ingin dimengerti. Wanita juga suka sekali diberikan perhatian. Meskipun sekedar perhatian kecil terhadap hal yang remeh, semisal ingat kepada hari ulang tahunnya.

Read more…

Categories: Celoteh